Laporan Studi Dokumentasi / Observasi
Kuliah Kerja Lapangan Sosiologi dan Antropologi
Bertempat di Istano Basa Pagaruyuang
Batusangkar
(Pedang
Mahkota)
Prodi Ilmu Administrasi Negara
Dosen Mata Kuliah : Dra. Fitri
Eriyanti, M.pd., Ph.D
OLEH :
1.
Rahmi Suci (14042010)
2. Wingfi Japami (14042018)
3.
Ririn Mayang Sari (14042046)
4.
Zamratul Ikhwan (1301929)
5.
Wanda Gustri Yomi (1305936)
Fakultas Ilmu Sosial
Universitas Negeri Padang
2014
KATA PENGANTAR
Puji
dan syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan
karunia-Nya kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah
“Laporan Study Dokumentasi / Observasi Kuliah Kerja Lapangan Sosiologi dan
Antropologi” sebagai tugas akhir pembelajaran mata kuliah Sosiologi dan
ntropologi.
Salawat beringingan salam tak lupa
pula penulis mohonkan kepada Allah SWT agar disampaikan kepada Nabi Muhammad
SAW yang telah membawa rahmat bagi sekalian alam terutama ilmu dan pengetahuan
yang berguna bagi semua umat manusia.
Penulis sadar, dalam penulisan makalah ini banyak kekurangan baik dari
segi pembahasan ataupun dari penulisan yang tidak sempurna, oleh sebab itu
penulis mengharapkan kritik dan sarannya yang bersifat membangun, guna
penyempurnaan pada penyusunan makalah berikutnya.
Akhir kata penulis mengucapkan terima
kasih kepada semua pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan
penulisan makalah ini. Besar harapan makalah ini dapat diterima oleh
dosen dan dapat menjadi referensi bagi teman-teman khususnya dan bagi pembaca
umumnya.
Batusangkar,
Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang Penulisan Masalah
Bentuk
dari kebudayaan sangatlah beragam, seperti benda-benda, pakaian, upacara,
ritual, dan sebagainya. Kita sebagai orang yang diwarisi kebudayaan itu oleh nenek
moyang kita tentunya harus mengetahui tentang segala sesuatunya mengenai
kebudayaan itu agar nantinya kita bisa melestarikan dan meregenerasikan kepada
anak cucu kita.
Dari
survey yang kami lakukan dilingkungan Istano Basa Pagaruyung dengan menggunakan
cara mewawancarai pengunjung, kami temukan bahwasanya zaman sekarang tidak
banyak orang yang tertarik dengan kebudayaan karena sebagian besar dari mereka
beranggapan kebudayaan itu adalah sebuah hal kuno yang ketinggalan zaman.
Sehingga kebudayaan tersebut hanyalah sebagai symbol sejarah bahwa kerajaan
Pagaruyuang ini sudah ada sejak zaman dahulu.
Adapun hal
lain yang kami temui ketika melakukan wawancara dengan pengunjung adalah banyak
diantara pengunjung tidak mengetehui nama-nama dan fungsi dari kebudayaan yang
ada. Untuk itulah, diperlukan orang-orang yang mau dan mampu meregenerasikan
kebudayaan tersebut agar nantinya kebudayaan itu tidak hanya tinggal nama
semata, dan juga perlu adanya pihak-pihak yang aktif untuk menggalakkan serta
merincikan bentuk-bentuk dari kebudayaan yang diwariskan nenek moyang agar
nantinya para penerus dimasa yang akan datang tidak mengalami cacat budaya.
B.
Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan ini antara
lain :
1.
Mengetahui tentang asal usul
benda-benda kebudayaan
2.
Mengetahui bahan pembuatan benda
kebudayaan tersebut
3.
Memahami fungsi dari benda kebudayaan
tersebut
BAB II
PEMBAHASAN / HASIL PENELITIAN
A.
Deskripsi
a.
Bentuk benda
Pedang mahkota terdiri dari dua bagian, yakni
pangkal yang menyerupai pangkal ikat pinggang. Dan bagian batang atau bilah
yang menyerupai pedang yang sangat tipis.
b.
Ukuran
Panjang pedang mahkota : 67 cm
Lebar :
bilah/tajaman 2,7 cm dan tangkai/pangkal 4,6 cm
Ketebalan bilah/tajaman : 0,1 cm
c.
Bahan yang digunakan
Bahan yang digunakan pada pedang ini adalah
logam kuningan dengan dilengkapi dengan batu permata warna kemerahan pada
pangkal pedang mahkota tersebut.
d.
Cara pembuatan
Cara pembuatan pedang mahkota ini tidak dapat
diketahui karena memang pada masa itu seluruh rahasia kerajaan terjaga dengan
baik termasuk hal-hal kecil seperti proses pembuatan pedang ini ataupun resep
masakan sekalipun.
B.
Sejarah
a.
Waktu pembuatan
Waktu pembuatan pedang ini tidak
diketahui karena tidak ada satupun sumber yang kami temui termasuk pemuka adat
dan yang dituokan di Nagari Pagaruyuang tidak mengetahui kapan waktu pastinya.
Yang jelas, pedang ini sudah ada pada masa kerajaan Pagaruyuang sejak zaman
dahulunya.
b.
Yang menciptakan
Pedang makhota ini dibuat atau
diciptakan oleh seorang ahli pembuat pedang yang memang dipercayai oleh pihak
kerajaan. Dan tentunya orang yang membuat pedang ini sangatlah ahli karena pada
hasilnya setiap detail pedang mahkota itu sangatlah sempurna.
c.
Asalnya
Menurut sumber yang kami dapat
yakninya dari tour guide Istabo Basa Pagaruyuang dan pemuka adat Nagari
Pagaruyuang yang bernama A. Dt. Rajo Lelo bahwasanya pedang mahkota ini adalah
salah satu benda kebudayaan yang tersisa dari peristiwa kebakaran Istano Basa
Pagaruyuang pada tahun 1804. Pada masa itu terjadi perperangan antara kaum adat
dan kaum agama. Waktu itu di daerah Tanah Datar baru dimasuki agama Islam
melalui jalur Payakumbuh kemudian masuk ke daerah Lintau Buo dan bermukim atau
berkubu di Talago Gunuang Nagari Saruaso Kecamatan Tanjung Emas.
Ketika itu terjadi perang padri antara
kaum adat dan kaum agama yang banyak menyisakan kesengsaraan rakyat, salah
satunya keluarga dari Kerajaan Pagaruyung banyak yang terbunuh dan Istano Basa
Pagaruyung dibakar. Pada saat Istano Basa pagaruyung terbakar untuk yang
pertama kalinya yakni pada tahun 1804 benda-benda yang ada di Istano Basa
Pagaruyung diamanatkan kepada rakyat untuk menjaganya, setelah Istano Basa
Pagaruyung dibangun kembali benda-benda yang dititipkan atau diamanatkan kepada
rakyat itu dipungut kembali dan diletakkan atau ditempatkan kembali pada Istano
Basa Pagaruyuang.
C.
Fungsi / Kegunaan
Pedang mahkota berfungsi untuk
menunjukkan lambang bahwa yang memakainya adalah seorang raja, selain itu
fungsi pedang mahkota itu juga sebagai alat untuk memproteksi diri apabila
nantinya ada keadaan yang mendesak dan mengancam keselamatan raja maka pedang
mahkota itu juga berfungsi sebagai alat pertahanan.
D.
Makna / Arti
a.
Arti dari bentuk benda
Makna dari pedang mahkota ini adalah
lambang atau symbol yang menunjukkan seorang raja, karena yang memakai pedang
mahkota ini hanyalah seorang penguasa atau raja. Batu permata warna kemerahan
menunjukkan kegagah beranian seorang raja, selain itu batu permata tersebut
berfungsi sebagai hiasan yang bernilai seni tinggi. Pada bagian bilah pedang
terdapat tulisan arab yang menunjukkan identitas Minangkabau bahwasanya asal
usul Minangkabau ini adalah dari Melayu.
b.
Alasan bentuk benda
Setiap bentuk benda pasti mempunyai
makna, seperti itu juga pada pedang mahkota ini. Pedang mahkota ini dapat
dijadikan sabuk atau pada saat ini disebut sebagai ikat pinggang, jika dipakai
sebagai sabuk maka kemungkinan besar musuh tidak akan menyadarinya. Begitupun
ketika kedaan mendesak, seorang raja akan dapat langsung berhadapan dengan
musuhnyadengan menarik bagian pangkal pedang kamudian pedang akan langsung
terhunus tanpa harus bersusah payah meminta pedang atau senjata lainnya kepada
pengawal atau punggawa.
E.
Data pendukung lainnya
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Semua
kebudayaan apapun bentuknya baik itu benda, pakaian, maupun tradisi lainnya
mempunyai nilai historis, nilai luhur, nilai kegunaan, dan nilai seni yang
sangat tinggi. Kebudayaan yang telah diwariskan oleh nenek moyang terdahulu
kepada kita hendaklah kita melestarikan dan meregenerasikannya kepada anak cucu
kita agar nantinya kebudayaan itu tetap kekal pada masa yang akan datang.
Segala
sesuatu yang diciptakan tentu ada manfaatnya bagi kehidupan kita, untuk itu
pahamilah setiap makna yang terkandung didalam kebudayaan kita supaya kelak ketika
terjadi kesulitan dalam kehidupan kita dapat berpedoman kepada kebudayaan yang
diciptakan leluhur. Jadikanlah kebudayaan itu sebagai bagian dari diri kita
bukan hanya sekedal lambang yang menandakan bahwa dahulu kala nenek moyang kita
pernah ada.